Posted on 28 October 2010.

Museum Bank Indonesia
Museum ini bukan sekedar menyuguhkan koleksi uang-uang kuno atau sejarah berdirinya bank. Lebih dari itu, museum ini tertata sangat apik, unik dan menarik plus memberikan pengetahuan modern tentang bank kepada para pengunjung. Jadi, penjelasan bukan hanya apa yang dijelaskan, tapi bagaimana menjelaskannya juga sangat penting di sini. Tidak heran jika pengunjungnya dari tahun ke tahun selalu meningkat.
Mengapa Museum Bank Indonesia didirikan? Sejak berdiri sebagai bank sentral di tahun 1953, Bank Indonesia telah banyak berkiprah dalam pembangunan Indonesia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal Bank Indonesia. Karena itulah dengan memanfaatkan, sekaligus melestarikan gedung bersejarah BI yang terletak di jalan Pintu Besar Utara No 3 Jakarta ini, didirikanlah Museum Bank Indonesia. Meski menempati bangunan kuno, namun Museum Bank Indonesia terkesan megah dan terawat. Cat putih di sekeliling gedung pun masih kinclong tanpa noda.

Begitu memasuki Museum Bank Indonesia, pengunjung akan dibuat terpesona dengan arsitektur bangunan dalam ruangan museum yang sangat artistik. Pengunjung langsung disuguhi deretan sejarah bank mulai zaman penjajahan Belanda hingga sekarang, dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Biasanya pengunjung tidak lupa berfoto di sekitar area ini. Sebab, memang nuansa dan desain yang disuguhkan benar-benar mengagumkan. Untuk memotret, pengunjung tidak boleh menggunakan lampu kilat.

Setelah itu, pengunjung akan menuju sebuah ruangan pemutaran film tentang bank. Biasanya petugas di sini akan memilihkan film yang sesuai dengan pengunjungnya. Jika anak-anak, biasanya diputarkan film kartun yang berisi pengetahuan tentang bank. Dari sini, anak-anak bisa memahami apa itu arti inflasi, fungsi uang, arti nilai tukar nominal, keuntungan menabung dan sebagainya.

Semakin dalam menelusuri museum ini, pengunjung akan makin dibuat terkagum-kagum dengan penataan dan desain ruang yang begitu apik. Hasti Adiani Dwiputranti, Analis Program Publik Madya Museum Bank Indonesia menyebut bahwa museum yang dibuka sejak 15 Desember 2006 ini dibangun dengan menggabungkan antara seni dan teknologi yang memberikan keunikan tersendiri dalam menyajikan informasi. Pantas saja banyak pengunjung yang ketagihan datang ke museum ini lagi dengan mengajak teman lain atau keluarganya. Selain gratis alias tidak dipungut biaya, pelayanan dari para petugas museum juga patut diacungi jempol.
Timbang Emas Batangan
Museum Bank Indonesia sangat berbeda dengan museum lainnya. Sebab museum ini memiliki koleksi numismatic atau uang yang terlengkap di Indonesia. Selain itu, terdapat Ruang Emas yang di dalamnya tersimpan replika emas batangan. Di sini para pengunjung bisa mencoba menimbang berat emas batangan yang sama seperti aslinya. Ruangan ini juga termasuk ruangan yang paling digemari para pengunjung. Banyak pengunjung yang betah memperhatikan replika emas batangan di dalam kotak kaca tersebut. Siapa tahu suatu hari nanti bisa punya emas batangan juga. Harganya saat ini di pasaran resmi sekitar Rp 370.000.000 per kilogram utuh.

Ruang Numismatik merupakan koleksi unik dari Museum Bank Indonesia. Dalam ruangan ini tersaji koleksi mata uang dimulai dari zaman kerajaan Hindu Budha tahun 800-1300 Masehi, zaman perdagangan, zaman pemerintahan Belanda, zaman pendudukan Jepang sampai mata uang sekarang. Ada juga uang bersambung (uncut money), uang token (uang khusus yang digunakan di perkebunan di tahun 1819), uang Kampua (uang kerajaan Kampua Buton yang terbuat dari kain di abad 14). Seluruh koleksi mata uang ini disimpan dalam lemari kaca yang dilengkapi kaca pembesar. Sehingga pengunjung tinggal menggeser kaca pembesar ke kiri, kanan, atas, dan bawah untuk melihat lebih jelas. Sebuah solusi inovatif untuk melestarikan benda-benda bersejarah.
Ruang Playmotion juga koleksi unik dari Museum Bank Indoensia. Ada 2 ruang playmotion. Ruang Playmotion 1 menyuguhkan pengetahuan tentang bank secara modern yaitu gambar bayangan uang berjatuhan yang ditayangkan melalui proyektor ke dinding. Ruangan ini digunakan sebagai transisi untuk mempersiapkan pikiran pengunjung menjelajah ruang sejarah dan ruang-ruang lainnya. Cara bermain dilakukan dengan menangkap bayangan koin-koin yang berjatuhan. Jika berhasil, maka akan keluar deskripsi tentang uang . Di ruangan ini, baik pengunjung tua, muda atau anak-anak sering berebutan ingin menangkap bayangan tersebut. Sementara di Ruang Playmotion 2, lebih didominasi anak-anak karena permainan tebak gambar dalam bahasa Inggris ditayangkan dari proyektor yang dipasang di atas dipantulkan ke meja.
Ruang Percetakan dan Pengedaran Uang menjelaskan tentang proses produksi uang, mulai dari proses perencanaan, pencetakan, pengedaran sampai peracikan. Terdapat peralatan untuk mendukung penjelasan tentang proses pencetakan yang, ada plat untuk mencetak uang, mesin cetak dan mesin peracikan.
Koleksi Non-Numismatik juga tersedia di museum ini. Di antaranya berupa peralatan kantor, furniture, radio, televisi zaman Belanda dan lain sebagainya. Ada juga layar monitor yang dilengkapi keyboard dan pengunjung bisa memanfaatkan sarana ini untuk menjelajahi langkah-langkah yang telah ditempuh Bank Indonesia di bidang kelembagaan, perbankan, moneter dan sistem pembayaran.

Museum Nasional
Lebih populer dengan sebutan Museum Gajah, yakni merujuk pada patung gajah terbuat dari perunggu di halaman depan museum, yang merupakan sumbangan dari Raja Chulalongkorn atau Raja Rama V dari Thailand yang berkunjung ke lokasi ini tahun 1871.
Gedung di Jalan Medan Merdeka Barat itu sendiri sih baru berdiri 1862 atas jasa penjajah kita dulu, pemerintah di Hindia Belanda, meski institusi museumnya sebenarnya sudah ada jauh sebelumnya, akhir 1700-an, namun saat itu masih pindah-pindah gedung.

Isi museum saat ini bisa dikategorikan menjadi beberapa bagian, yakni arkeologi, etnografi, numismatik & keramik, prasejarah, sejarah, dan geografi. Yang disebut pertama, arkeologi, mewakili masa sejarah Hindu-Budha dulu, sekitar abad 10-15 Masehi. Dalam tahapan sejarah Indonesia, masa ini dinamakan periode klasik Indonesia. Apa yang bisa ditemukan di kawasan ini adalah berbagai macam arca, patung, peralatan upacara, mata uang, dan sebagainya yang terbuat dari macam-macam bahan, antara lain emas, perak, dan tanah liat. Harta karun terbanyak di koleksi ini berasal dari Jateng dan Jatim, meski ada juga patung-patung dari Kaltim dan Sumbar.
Etnografi lebih merupakan potret atas budaya dan karya seni ratusan suku yang hidup di wilayah Indonesia saat ini. Dari koleksi itu bisa ketahuan pengaruh agama dan budaya asing yang merasukinya.
Numismatik & Keramik sesuai namanya merupakan tempat mengumpulkan semua koleksi yang berkaitan dengan koin, uang kertas, token, serta alat pencetak uang dari masa sejak sebelum penjajahan, masa kolonialisme, sampai dengan pasca kemerdekaan. Sedangkan keramik yang dikumpulkan di tempat ini terbanyak berasal dari China, dengan periode sejak Han di awal abad pertama, sampai dengan Qing di abad ke-20.

Sedangkan bagian Prasejarah mencakup masa sebelum kolonialisme terjadi. Jadi masa jutaan tahun silam sampai dengan abd ke-5 Masehi. Bedanya dengan bagian Sejarah, yang disebut terakhir ini mencakup abad ke-16 sampai 19 Masehi.
Museum ini mengingat umurnya yang sudah sangat tua, tidak menghe-rankan jika koleksinya mencapai ratusan ribu barang. Bahkan sebelum Perpustakaan Nasional didirikan, manuskrip tua pun juga menjadi bagian dari koleksi Museum Gajah. Dari sekitar 140 ribu barang, hanya 50 ribuan saja yang dipamerkan kepada umum.
Salah satu ruangan yang tidak boleh dilupakan untuk dikunjungi adalah koleksi artefak emas di lantai 2. Bagian yang dijaga ketat ini ditutup 1 jam sebelum jam tutup museum lainnya. Di ruangan ini semua isinya adalah emas, emas, emas. Umumnya perhiasan gelang, kalung dan sebagainya. Tapi juga ada arca terbuat dari emas, dan benda-benda lainnya. Nilai historisnya saja sudah tak bisa diperkirakan. Apalagi nilai barangnya itu sendiri jika sampai tercuri atau dirampok orang. Konon, museum ini dijaga sangat ketat setelah mengalami sejumlah tindak kejahatan di masa lalu.

Museum Fatahillah
Nama resminya adalah Museum Sejarah Jakarta. Bedanya dengan Museum Nasional, ya ini hanya soal Jakarta tempo doeloe. Cakupannya Jakarta, bukan Indonesia. Mustinya sih begitu. Tapi jika ditelisik, isi koleksinya kurang lebih sama juga dengan Museum Nasional, mulai dari keramik, benda-benda arkeologi seperti logam, kaca, porselen, prasasti. Mungkin tidak banyak arca karena jenis ini khas Jateng dan Jatim. Juga di sini ada lukisan Raden Saleh, salah satu pemukim awal Jakarta tempo doeloe.
Satu lagi bedanya dengan Museum Nasional. Di sini ada penjara bawah tanah. Gedung museum dulunya adalah peninggalan Belanda yang dipakai sebagai gedung balaikota. Letaknya ada di bagian bawah gedung. Komplit dengan bola-bola pengikat kaki tahanan. Konon, mereka direndam di dalam air. Betul-betul siksaan. Ini merupakan apa yang dinamakan turisme hitam. Menikmati sesuatu yang mengingatkan pada kekejaman manusia.
Dibandingkan gedung Museum Nasional, Stadhuis ini usianya lebih tua. Dibangun pada awal tahun 1700-an, berarti setidaknya umurnya sudah mencapai 300 tahun. Namun secara koleksi kalah jauh dari museum saudaranya tersebut. Koleksi barang yang ditampung di sini sekitar 23 ribu.
Ada 2 ikon khas museum ini yang harus dipakai sebagai latar berfoto. Pertama adalah patung Hermes. Patung Hermes ini tadinya berdiri di perempatan Harmoni, dan tergusur pelebaran jalan. Karya seni ini merupakan pemberian satu keluarga Belanda kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai ucapan terima kasih telah diizinkan berbisnis di Batavia.

Yang kedua, meriam si Jagur. Bentuk meriam dan jempol di pangkal meriam menyebabkan banyak tafsiran atas benda kuno ini. Konon, mereka yang ingin memiliki anak harus menunggangi meriam ini. Benda itu sendiri menurut sejarah dibuat di Macau. Sempat dibawa ke Melaka beberapa tahun lamanya yang sama-sama merupakan jajahan Portugis, sebelum akhirnya dibawa lagi ke Jakarta untuk diletakkan di tempat ini.
Museum di Tengah Kebun
Ini merupakan satu-satunya museum swasta dalam bahasan kita kali ini. Tentu bukan satu-satunya museum swasta di Indonesia. Tapi kegigihan pemiliknya, Sjahrial Djalil, dalam mengumpulkan koleksi barang-barang kuno dan bernilai sejarah patut diacungi jempol. Dan koleksinya sangat berselera tinggi. Memperlihatkan pemiliknya memiliki pengetahuan perihal barang-barang itu, sekaligus bukan orang sembarangan.

Sjahrial yang di masa lalu dikenal sebagai seorang eksekutif dunia periklanan dikenal sebagai pemburu koleksi barang kuno asal Indonesia dan negara-negara lain di berbagai balai lelang, antara lain Christie’s. Koleksinya kini mencapai 1.744 barang dari berbagai pelosok dunia. Nilainya? Jangan tanya. Tapi dari buku “Museum di Tengah Kebun” yang diterbitkannya sendiri kita bisa melihat koleksi satu per satu barang miliknya. Dengan bentuan sejumlah ahli, setiap koleksi dijelaskan dan diperlihatkan dengan foto yang jelas dan tajam, plus perbandingan dengan benda lain agar ketahuan ukuran sesungguhnya.

Sebenarnya museum ini bukan hanya kumpulan koleksi barang. Bangunan rumah di Jalan Kemang Timur 66 itu sendiri layak disebut museum hidup. Lihatlah misalnya bata-bata kemerahan yang menopang kokohnya bangunan, dan dibiarkan telanjang tanpa plester, ternyata terbuat dari bekas bata gedung zaman Belanda. Salah satunya di Pasar Ikan, Tanjung Priok. Yang lainnya dari penjara wanita di Bukit Duri.
Kenapa sih repot-repot mendirikan museum dan merawatnya? “Karena saya ingin memperlihatkan pada generasi muda bahwa posisi kebudayaan Indonesia tidak kalah dari kebudayaan lainnya, baik China, Yunani, maupun Barat,” kata Sjahrial.
Sayang, pemerintah tak punya passion yang serupa. Salah satu masalah yang digelutinya adalah pajak bumi bangunan yang mencapai puluhan juta per tahunnya, dan naik terus dari tahun ke tahun. Seolah-olah tak ada pengertian dari pemerintah atas jerih payah perorangan dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. DH